Banyuwangi – Di tengah kekhawatiran global terhadap krisis energi, inovasi menarik lahir dari lingkungan pendidikan di Kabupaten Banyuwangi. Sekelompok siswa SMK berhasil mengembangkan kompor alternatif yang menggunakan limbah oli bekas dan minyak jelantah sebagai bahan bakar utama.
Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi energi murah, tetapi juga menjawab persoalan lingkungan dengan memanfaatkan limbah cair yang selama ini sering mencemari tanah dan air.
Dwi Alfian, salah satu siswa inovator, menjelaskan bahwa ide tersebut berawal dari keprihatinan terhadap banyaknya oli bekas di bengkel yang tidak dimanfaatkan.
“Awalnya kami melihat oli bekas hanya dibuang begitu saja. Kami mencoba merancang sistem pembakaran yang bisa mengubahnya menjadi sumber api. Setelah beberapa kali uji coba, kompor ini terbukti menghasilkan panas stabil dan cukup hemat karena menggunakan limbah,” ujarnya.
Sementara itu, Hadi Efendi selaku guru pembimbing menegaskan bahwa pengembangan alat ini terus difokuskan pada aspek keamanan dan efisiensi.
“Prinsip kerjanya adalah penguapan oli yang dibantu dorongan udara dari blower kecil. Ini bukan sekadar proyek sekolah, tetapi solusi nyata untuk membantu pelaku usaha kecil menekan biaya operasional dapur,” jelasnya.
Kompor inovatif ini memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya:
- Memanfaatkan limbah yang mudah didapat bahkan gratis
- Mengurangi pencemaran lingkungan dari limbah cair
- Menghasilkan api biru yang stabil dan efisien untuk memasak skala besar
Karya para siswa ini menjadi bukti bahwa inovasi dari dunia pendidikan vokasi mampu memberikan jawaban atas tantangan energi dan lingkungan. Dengan pengembangan lebih lanjut serta dukungan berbagai pihak, teknologi ini berpotensi menjadi produk unggulan yang mendukung kemandirian energi masyarakat.
Penulis : Aldi Santoso
Editor : Novita





