Media Sosial dan Tekanan Mental Antara Validasi Diri dan Realitas Semu

- Admin

Minggu, 3 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Media sosial kerap menjadi ruang bagi seseorang untuk mencari pengakuan atas jati diri. Namun, dorongan untuk selalu tampil sempurna justru berpotensi memicu tekanan batin yang tidak sedikit.

Konten yang diunggah umumnya telah melalui proses kurasi agar terlihat menarik. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa apa yang tampak di layar bukanlah gambaran utuh kehidupan seseorang.

Psikolog dari Universitas Hang Tuah Surabaya, Desi Nur Utami, menyoroti tantangan kesehatan mental di era digital, khususnya yang dialami generasi muda. Menurutnya, kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan figur publik di media sosial dapat memicu perasaan tertekan hingga depresi.

“Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang pasti memiliki suka dan duka. Yang terlihat di media sosial umumnya hanya sisi baiknya saja,” ujar Desi saat berbincang bersama PRO 3 RRI, Kamis (30/4/2026).

Selain itu, banjir informasi di media sosial juga dapat memperburuk kondisi psikologis jika tidak disaring dengan baik. Desi mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam mengonsumsi informasi agar kesehatan mental tetap terjaga.

Ia juga menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal gangguan mental, seperti kelelahan emosional. Memberi waktu untuk beristirahat sejenak dinilai penting guna menjaga keseimbangan antara fisik dan mental.

“Coba ingat kembali hal-hal baik yang terjadi dalam hidup kita setiap hari. Dengan begitu, kita bisa lebih memaknai hidup secara positif,” katanya.

Di sisi lain, layanan konseling daring kini menjadi alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan profesional, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu.

Desi mengingatkan agar masalah psikologis tidak diabaikan. Penanganan sejak dini oleh tenaga profesional dinilai penting untuk mencegah dampak yang lebih serius di kemudian hari.

Facebook Comments Box

Penulis : Rudi

Editor : Novita

Berita Terkait

Pemulihan Penglihatan Massal, Banyuwangi Lanjutkan Operasi Katarak Gratis 2026
Lewat Program CSR, PUDAM Banyuwangi Biayai BPJS Kesehatan 250 Pekerja Rentan
Ketua Umum BRN dr. Reagen Tegaskan Komitmen Perangi Stunting demi SDM Unggul
Pelayanan IGD RSUD Sumenep Dinilai Semakin Sigap dan Humanis oleh Keluarga Pasien
Tenaga Kesehatan Tetap Siaga, Persalinan Lancar di Tengah Lebaran di Puskesmas Lenteng
Simak Manfaat Puasa Intermiten
Layanan Rujukan Lambat, Pasien DBD di Pasongsongan Tunggu Ambulans Berjam-jam
SPPG Yayasan Al-Azhar Sumenep Terapkan Teknologi Air RO Ozon untuk Jamin Keamanan Dapur

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:01 WIB

Media Sosial dan Tekanan Mental Antara Validasi Diri dan Realitas Semu

Selasa, 28 April 2026 - 12:38 WIB

Pemulihan Penglihatan Massal, Banyuwangi Lanjutkan Operasi Katarak Gratis 2026

Sabtu, 25 April 2026 - 05:08 WIB

Lewat Program CSR, PUDAM Banyuwangi Biayai BPJS Kesehatan 250 Pekerja Rentan

Selasa, 21 April 2026 - 08:50 WIB

Ketua Umum BRN dr. Reagen Tegaskan Komitmen Perangi Stunting demi SDM Unggul

Jumat, 3 April 2026 - 13:09 WIB

Pelayanan IGD RSUD Sumenep Dinilai Semakin Sigap dan Humanis oleh Keluarga Pasien

Berita Terbaru