SUMENEP – Dalam dunia kesehatan, waktu bukan sekadar hitungan angka. Setiap detik dapat menentukan keselamatan pasien. Karena itu, pelayanan yang cepat, jelas, dan manusiawi menjadi kebutuhan utama, khususnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Perubahan kualitas layanan tersebut mulai dirasakan langsung oleh masyarakat di RSUD Sumenep. Sejumlah keluarga pasien mengaku mengalami perbedaan signifikan, terutama dalam hal kecepatan penanganan dan komunikasi tenaga medis.
Mursid, salah satu keluarga pasien, menceritakan pengalamannya saat mendampingi anggota keluarganya di IGD. Di tengah situasi penuh kepanikan, ia justru merasakan pelayanan yang sigap dan menenangkan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Alhamdulillah, pelayanannya sangat baik. Petugasnya cepat dan selalu memberikan penjelasan yang jelas kepada kami, sehingga kami tidak bingung,” ungkapnya.
Menurutnya, hal yang paling terasa bukan hanya tindakan medis, tetapi juga cara tenaga kesehatan berkomunikasi dan menunjukkan empati kepada keluarga pasien.
“Kami tidak hanya dilayani, tapi juga ditenangkan. Itu yang sangat penting saat kondisi darurat,” tambahnya.
Pengalaman serupa disampaikan SR, keluarga pasien kritis asal Kecamatan Rubaru. Ia mengaku sempat mengalami pengalaman kurang menyenangkan di fasilitas kesehatan lain sebelumnya.
“Kami seperti tidak punya arah. Untuk koordinasi saja sulit, kami dibiarkan kebingungan,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut berubah saat pasien dirujuk ke RSUD Sumenep. Ia merasakan pelayanan yang lebih terstruktur, cepat, dan komunikatif.
“Alhamdulillah, sekarang kondisi keluarga saya di ICU sudah mulai membaik. Kami merasa lebih tenang karena semua informasi jelas dan tidak membingungkan,” tuturnya.
Dari dua pengalaman tersebut, terlihat bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada fasilitas dan peralatan, tetapi juga pada sistem yang tertata serta komunikasi yang humanis.
Dalam kondisi kritis, keluarga pasien tidak hanya membutuhkan tindakan medis, tetapi juga kepastian informasi dan rasa tenang. Komunikasi yang baik terbukti mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.
SR juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh opini yang belum tentu sesuai dengan fakta di lapangan.
“Lebih baik melihat langsung dan merasakan sendiri. Karena saat kondisi genting, yang dibutuhkan adalah pelayanan nyata, bukan sekadar cerita,” tegasnya.
Selain itu, penerapan aturan disiplin seperti pembatasan kunjungan, pengaturan jumlah penunggu, hingga kawasan tanpa rokok juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi pasien.
Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang optimal merupakan kombinasi antara kecepatan, ketepatan, dan kepedulian.
Pada akhirnya, dalam situasi darurat, masyarakat tidak mencari layanan yang paling terkenal, melainkan yang paling siap, paling jelas, dan paling peduli.
Dan dari pengalaman para keluarga pasien ini, satu hal menjadi nyata: pelayanan yang baik akan selalu berbicara melalui bukti, bukan sekadar opini.
Penulis : Nur Mahmudi
Editor : Novita





