JAKARTA – Pernyataan mendiang ekonom Faisal Basri yang pernah memprediksi nilai tukar rupiah akan menembus level Rp18.000 hingga Rp19.000 per dolar Amerika Serikat kembali menjadi perbincangan publik. Video pernyataannya dalam sebuah diskusi pada Mei 2024 kembali viral di media sosial setelah rupiah pada awal Juni 2026 menyentuh angka psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Dalam diskusi yang berlangsung di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Faisal Basri mengungkapkan kekhawatirannya terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Menurutnya, jika rupiah melemah hingga kisaran Rp18.000 – Rp19.000 per dolar AS, pemerintah akan menghadapi kesulitan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Jadi kalau udah Rp18.000, Rp19.000, kacau semua, udah nggak bisa lagi terkendali. Subsidi nggak bisa lagi dari APBN, karena dari mana lagi nggak ada kan, habis buat yang lain-lain,” ujar Faisal saat itu.
Selain menyoroti persoalan ekonomi, Faisal juga memperkirakan adanya potensi ketegangan politik pasca-Pemilihan Presiden 2024 yang dimenangkan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai hubungan politik antara Presiden Joko Widodo dan Prabowo berpotensi mengalami dinamika yang dapat memengaruhi stabilitas nasional.
“Nah pada saat yang bersamaan, terjadi konflik politik. Saya rasa sebentar lagi Prabowo akan meninggalkan Jokowi, Jokowinya kecewa, macam-macam, mulai tensions gitu-gitu,” kata Faisal.
Menurutnya, kondisi ekonomi yang memburuk dan beriringan dengan ketegangan politik merupakan kombinasi yang dapat memicu krisis nasional.
“Nah kalau politik dan ekonominya nyatu, itulah krisis itu terjadi. Itu yang saya perkirakan paling lama 2026,” ujarnya.
Prediksi tersebut kini kembali menjadi sorotan setelah nilai tukar rupiah dilaporkan menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan awal Juni 2026. Pelemahan rupiah juga terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar modal.
Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 101,28 poin atau 1,70 persen ke level 5.839,785. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level terendah 5.644,23 sebelum akhirnya menutup sesi di zona merah.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah tidak serta-merta menandakan Indonesia memasuki krisis ekonomi. Berbagai faktor global, termasuk penguatan dolar AS, ketidakpastian ekonomi dunia, dan sentimen pasar internasional turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Namun, kemunculan kembali pernyataan Faisal Basri dianggap sebagai pengingat bahwa stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar, mengendalikan tekanan eksternal, serta memastikan situasi politik tetap kondusif.
Kini, ketika rupiah telah mencapai level yang pernah diprediksi Faisal dua tahun lalu, publik kembali menyoroti pandangan ekonom senior tersebut mengenai tantangan yang mungkin dihadapi Indonesia sepanjang 2026.
Penulis : Rudi
Editor : Novita





