JAKARTA – Setengah abad perjalanan satelit Indonesia menjadi penanda penting komitmen bangsa dalam membangun kedaulatan digital berbasis penguasaan teknologi antariksa. Selama 50 tahun terakhir, satelit telah menjadi fondasi konektivitas nasional sekaligus mendukung berbagai sektor strategis, mulai dari komunikasi, pendidikan, kesehatan, hingga pertumbuhan ekonomi digital.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, mengatakan Indonesia telah menorehkan sejarah sebagai negara ketiga di dunia yang mengoperasikan sistem komunikasi satelit domestik melalui peluncuran Satelit Palapa. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan penguasaan teknologi nasional.
“Hari ini kita memperingati tonggak bersejarah perjalanan bangsa, 50 tahun satelit Indonesia. Lima dekade lalu Indonesia mencatat sejarah sebagai negara ketiga di dunia yang mengoperasikan sistem komunikasi satelit domestik melalui peluncuran Satelit Palapa,” ujar Arif saat membuka peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia bertema Kedaulatan Digital dari Ruang Angkasa di Kantor Pusat BRIN, Jakarta, Rabu (8/7).
Arif menegaskan, Satelit Palapa bukan sekadar keberhasilan teknologi, melainkan simbol tekad Indonesia untuk mempersatukan wilayah Nusantara melalui penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi. Keberadaan satelit telah menghubungkan ribuan pulau, memperluas akses telekomunikasi dan penyiaran, serta membuka layanan pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga transaksi ekonomi digital bagi masyarakat.
Di sisi lain, satelit penginderaan jauh juga berperan menyediakan data strategis yang dimanfaatkan untuk pengelolaan sumber daya alam, ketahanan pangan, perencanaan tata ruang, mitigasi bencana, pemantauan kawasan hutan dan kelautan, hingga mendukung upaya adaptasi terhadap perubahan iklim serta pengawasan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Arif, peran satelit kini jauh melampaui fungsi komunikasi. Infrastruktur antariksa telah menjadi penopang utama berbagai aktivitas ekonomi modern, mulai dari konektivitas digital, layanan perbankan, perdagangan elektronik, logistik, navigasi, hingga pelayanan publik berbasis teknologi.
“Hampir seluruh aktivitas ekonomi modern bergantung pada layanan satelit. Mulai dari konektivitas digital, perbankan, e-commerce, logistik, navigasi, hingga pelayanan publik berbasis teknologi,” katanya.
Lebih lanjut, Arif menyebut data yang dihasilkan satelit kini menjadi fondasi penting dalam implementasi program Satu Data Indonesia. Pemanfaatan data tersebut memungkinkan pemerintah menyusun kebijakan berbasis bukti sekaligus mempercepat pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs).
Ia menegaskan, memasuki era transformasi digital, penguasaan teknologi antariksa menjadi faktor strategis bagi Indonesia untuk menjaga kedaulatan, meningkatkan daya saing, serta memastikan pembangunan nasional berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan.
Penulis : Rudi
Editor : Novita






