Pelemahan Rupiah Berlanjut, Industri Impor Bahan Baku Mulai Kesulitan

- Admin

Selasa, 26 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga mendekati level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan, Selasa (26/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,29 persen atau turun 52 poin ke posisi Rp17.796 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, serangan terbaru AS dilakukan dengan alasan membela diri dengan menyasar lokasi peluncuran rudal dan kapal penyebar ranjau milik Iran.

“Amerika Serikat kembali melancarkan serangan baru ke Iran di tengah proses kesepakatan perdamaian. Situasi ini membuat dolar AS terus menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, Iran memang belum memberikan respons resmi atas serangan tersebut. Namun, eskalasi konflik dinilai berpotensi mempersulit proses negosiasi dan memicu kenaikan harga minyak dunia.

“Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah dapat mendorong kenaikan harga minyak dan memperbesar ketidakpastian pasar keuangan global,” katanya.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor industri dalam negeri, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya produksi dikhawatirkan berdampak pada efisiensi perusahaan hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Konflik geopolitik global dan kenaikan harga bahan bakar semakin memperburuk situasi industri nasional,” tambah Ibrahim.

Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah PHK sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 15.452 pekerja. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah dalam beberapa bulan mendatang.

Ibrahim mencontohkan, penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, menyebabkan sekitar 350 pekerja kehilangan pekerjaan. Tekanan serupa juga mulai dirasakan sektor otomotif, tekstil, garmen, hingga alas kaki.

Di Sidoarjo, Jawa Timur, perusahaan otomotif CV Asri disebut telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan kendaraan.

“Sementara potensi PHK di sektor tekstil dan alas kaki diperkirakan mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Penulis : Rudi

Editor : Novita

Berita Terkait

Bukti Digital Bisa Direkayasa AI, Gagasan Dr. Zein Raih Penghargaan Nasional
Ancaman El Nino, Pemerintah Genjot Pompanisasi Pertanian
Potensi Laut Besar, Sumenep Mulai Menata Industri Perikanan dari Kepulauan
Dari Stan MNV 2026, Nia Kurnia Fauzi Bicara Perempuan dan Kemandirian Ekonomi
Pemerintah Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak, Fokus Perluas Basis Penerimaan Negara
Kejagung Terima Pelimpahan Tiga Kasus Korupsi, 74 Kg Emas dan Valas Miliaran Disita
Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Cilacap, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
BRIN: Satelit Jadi Fondasi Kedaulatan Digital Indonesia di Usia 50 Tahun Palapa

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 04:24 WIB

Bukti Digital Bisa Direkayasa AI, Gagasan Dr. Zein Raih Penghargaan Nasional

Minggu, 4 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Ancaman El Nino, Pemerintah Genjot Pompanisasi Pertanian

Selasa, 1 September 2026 - 17:47 WIB

Potensi Laut Besar, Sumenep Mulai Menata Industri Perikanan dari Kepulauan

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:46 WIB

Dari Stan MNV 2026, Nia Kurnia Fauzi Bicara Perempuan dan Kemandirian Ekonomi

Rabu, 15 Juli 2026 - 14:59 WIB

Pemerintah Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak, Fokus Perluas Basis Penerimaan Negara

Berita Terbaru

Nasional

Ancaman El Nino, Pemerintah Genjot Pompanisasi Pertanian

Minggu, 4 Okt 2026 - 13:49 WIB