YOGYAKARTA – Mbak Indri Center (MIC) resmi memiliki kepengurusan baru setelah menggelar Kongres I di Yogyakarta, Sabtu, 12 September 2026. Forum perdana tersebut menetapkan Barri Yusroni Arroisi sebagai Ketua Umum MIC.
Kongres yang berlangsung pada 12 September 2026 menjadi momentum konsolidasi sekaligus penegasan arah gerakan MIC ke depan. Organisasi ini dibentuk sebagai wadah bersama yang berangkat dari semangat perjuangan dan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya masyarakat Madura.
MIC lahir dari gagasan sejumlah teman seperjuangan Indriani Yulia Mariska yang ingin melanjutkan semangat perjuangan melalui gerakan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pembentukan MIC didasari kesadaran bahwa berbagai persoalan masyarakat membutuhkan gerakan yang terorganisir, berkelanjutan, dan mampu menghadirkan solusi konkret. Karena itu, MIC diarahkan bukan sekadar menjadi ruang silaturahmi, tetapi sebagai wadah kolaborasi untuk mendorong kerja-kerja yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Dalam Kongres I, para peserta melakukan konsolidasi organisasi sekaligus membahas arah dan agenda MIC ke depan. Hasil forum tersebut kemudian menetapkan Barri Yusroni Arroisi sebagai Ketua Umum MIC.
Usai terpilih, Barri menegaskan bahwa MIC harus mampu menerjemahkan gagasan menjadi kerja nyata di tengah masyarakat.
“MIC tidak boleh hanya menjadi nama atau sekadar wadah berkumpul. MIC harus menjadi gerakan yang hadir, bekerja, dan memberikan dampak. Semangat perjuangan yang melatarbelakangi lahirnya MIC harus kita jaga dan kita teruskan melalui kerja-kerja sosial, pemberdayaan ekonomi, serta keberpihakan kepada masyarakat,” ujar Barri.
Ia mengatakan MIC akan dibangun sebagai rumah bersama yang dapat mempertemukan berbagai potensi masyarakat Madura. Menurutnya, Madura memiliki sumber daya manusia, potensi ekonomi, budaya, dan kekuatan sosial yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi.
“Madura memiliki sumber daya manusia, potensi ekonomi, budaya, dan kekayaan sosial yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut kita satukan menjadi kekuatan,” katanya.
Karena itu, lanjut Barri, MIC akan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai elemen, mulai dari pemuda, pelaku UMKM, komunitas, akademisi, tokoh masyarakat, pemerintah, hingga kelompok masyarakat lainnya.
Barri juga menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu agenda utama MIC. Ia menilai masyarakat perlu ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan hanya sebagai penerima manfaat.
“Kita ingin masyarakat menjadi subjek, bukan sekadar objek. Gerakan sosial harus mampu membangun kemandirian. Pemberdayaan ekonomi harus menciptakan kesempatan. Dan pada akhirnya, seluruh ikhtiar tersebut harus bermuara pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, amanah sebagai Ketua Umum bukanlah pekerjaan individual. Menurut Barri, keberadaan MIC sejak awal dibangun melalui semangat kolektif sehingga pengembangannya juga harus dilakukan secara bersama-sama.
“Saya menerima amanah ini bukan sebagai kebanggaan pribadi, tetapi sebagai tanggung jawab bersama. MIC lahir dari semangat kolektif, maka MIC juga harus bergerak dengan kekuatan kolektif. Kita akan membangun organisasi ini dengan prinsip kolaborasi, keterbukaan, dan kebermanfaatan,” katanya.
Setelah Kongres I, MIC akan menyusun langkah strategis dan program kerja sebagai pijakan organisasi. Sejumlah agenda yang diprioritaskan antara lain penguatan gerakan sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan UMKM, peningkatan kapasitas pemuda, serta program yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
Terpilihnya Barri Yusroni Arroisi sekaligus menandai babak baru perjalanan MIC. Organisasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu mengubah gagasan menjadi program dan kerja nyata yang dirasakan masyarakat.
Dari Yogyakarta, Kongres I MIC menjadi titik awal untuk merawat semangat perjuangan, menggerakkan potensi, dan memperluas kebermanfaatan bagi masyarakat Madura.
Penulis : Mahmudi
Editor : Novita






