Said Abdullah Tanam Pohon, PUTR Sumenep Tebang Pohon: PDPM Sebut Kebijakan Tak Masuk Akal

- Admin

Kamis, 27 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumenep — Kebijakan lingkungan di Kabupaten Sumenep kembali menjadi perhatian publik setelah Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sumenep melakukan penebangan sejumlah pohon besar di pusat kota.

Langkah tersebut dinilai berseberangan dengan upaya penghijauan yang sedang digencarkan di berbagai daerah, termasuk oleh legislator asal Madura.

Perbedaan arah kebijakan ini memunculkan reaksi dari masyarakat dan para aktivis lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Banggar DPR RI, MH Said Abdullah, sebelumnya menyalurkan bantuan Rp1 miliar untuk penghijauan di Kampus UIN Madura. Dana tersebut dialokasikan seluruhnya untuk pembelian pohon serta penataan ruang hijau sebagai bagian dari program Green University.

“Ini penting agar UIN Madura menjadi kampus hijau. Dunia sedang menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global,” ujar Said, Sabtu (22/11/2025), dikutip dari koranmadura.com.

Penebangan pohon besar di Taman Adipura dan sepanjang Jalan Diponegoro mendapat beragam tanggapan dari publik. Menanggapi kritik tersebut, Kepala Dinas PUTR Sumenep, Eri Susanto, menegaskan bahwa penebangan dilakukan dengan kompensasi penanaman kembali.

“Setiap pohon yang ditebang di Taman Adipura akan diganti dengan bibit Kamboja Bali yang baru,” jelas Eri dalam surat resmi, Rabu (19/11/2025), dikutip dari news9.it.

Ia juga menyebut bahwa kawasan taman akan diperbarui melalui pemasangan paving baru, penataan area hijau, dan penggantian pohon di Jalan Diponegoro dengan jenis Tabe Buya. Proses penataan dilakukan secara bertahap sesuai progres lapangan.

Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumenep, Suryadi, menjadi salah satu pihak yang mengkritik keras kebijakan penebangan tersebut. Menurutnya, yang dipertaruhkan bukan hanya estetika kota, melainkan arah jangka panjang pengelolaan lingkungan di Sumenep.

“Ruang hijau kita sedang mundur, bukan maju. Ketika pohon besar ditebang, kita kehilangan manfaat ekologis puluhan tahun dalam hitungan jam,” ujar Suryadi.

Ia menekankan bahwa pohon besar di perkotaan memiliki fungsi ekologis yang tidak dapat digantikan begitu saja—mulai dari peneduh alami, habitat burung, penyerap polusi hingga pengatur mikroklimat.

“Nilai ekonominya? Jangan anggap kecil. Penebangan puluhan pohon besar itu bisa lebih dari Rp1 miliar jika dihitung nilai karbon, usia pohon, hingga fungsi ekologisnya,” tegasnya.

Minta Kajian Terbuka dan Libatkan Publik

Suryadi menilai bahwa penataan ruang hijau tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa atau hanya berdasarkan pertimbangan estetika visual.

“Pohon pengganti itu baik, tetapi tidak bisa mengimbangi pohon besar yang sudah hidup 20–30 tahun. Bibit baru butuh waktu lama sebelum memberikan fungsi ekologis yang sama,” ujarnya.

Ia meminta Pemkab Sumenep, terutama Dinas PUTR, untuk menunda seluruh rencana penebangan berikutnya sampai kajian lengkap dipublikasikan dan bisa dipantau bersama.

“Kami tidak menolak penataan kota. Kami hanya ingin kebijakan yang lebih arif, transparan, dan berbasis data. Libatkan publik, libatkan ahli lingkungan, jangan ambil keputusan di ruang tertutup,” tegasnya lagi.

Menurut Suryadi, pembangunan kota seharusnya sejalan dengan komitmen nasional dan global terhadap pelestarian lingkungan.

“Ketika Said Abdullah memperjuangkan penghijauan kampus, tetapi di kota Sumenep justru pohon ditebang, ini seperti berjalan ke dua arah yang berbeda. Masyarakat bingung, dan ini wajar,” ujarnya.

Perbedaan antara program penghijauan dan penataan ruang publik di Sumenep menunjukkan pentingnya sinkronisasi kebijakan lingkungan antarinstansi. (Jk/red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bursa Sekda Sumenep Disorot, Dua Figur Kuat Disebut Didukung Jejaring Nasional
Gen Z Jatim Desak Perda Pembatasan Plastik
Memalukan ! Marsel Agot Seorang Petinggi Agama Di Labuan Bajo Diduga Rampas Tanah Warga
Meski Malam Hari, Petugas PLN Dungkek Tetap Sigap Atasi Keluhan Listrik Warga
Hampir Rampung, Pembangunan Musola Al-Ikhlas di Manding Capai 96 Persen Berkat Kepedulian JSI
Diduga Terlibat Teror Wartawan, Nama Pater Marsel Agot Dikaitkan dengan Sengketa Tanah Batu Gosok Labuan Bajo
Siswa Jadi Korban Tabrakan, luka dan Sakit, Homaidi, Oknum Polres Sumenep Malah Panggil Orang Tuanya Berdalih ada Laporan Padahal Tidak
Lima Komisioner Komisi Informasi Sumenep Periode 2025–2029 Resmi Dilantik

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 17:03 WIB

Bursa Sekda Sumenep Disorot, Dua Figur Kuat Disebut Didukung Jejaring Nasional

Senin, 2 Februari 2026 - 17:04 WIB

Gen Z Jatim Desak Perda Pembatasan Plastik

Minggu, 1 Februari 2026 - 15:19 WIB

Meski Malam Hari, Petugas PLN Dungkek Tetap Sigap Atasi Keluhan Listrik Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 06:09 WIB

Hampir Rampung, Pembangunan Musola Al-Ikhlas di Manding Capai 96 Persen Berkat Kepedulian JSI

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:30 WIB

Diduga Terlibat Teror Wartawan, Nama Pater Marsel Agot Dikaitkan dengan Sengketa Tanah Batu Gosok Labuan Bajo

Berita Terbaru

Opini

Dampak Globalisasi Terhadap Negara-Negara Miskin

Selasa, 3 Feb 2026 - 04:01 WIB

Daerah

Gen Z Jatim Desak Perda Pembatasan Plastik

Senin, 2 Feb 2026 - 17:04 WIB