Oleh: Sholikh Al Huda
Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur Periode 2010–2014 dan Ketua PRM Masangan Wetan Sidoarjo.
Reflektif Tanwir Pemuda Muhammadiyah Bali, 21–23 Mei 2026
Tema Tanwir Pemuda Muhammadiyah tahun ini cukup menarik: “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Raya.” Kalimatnya teduh, optimistis, dan khas bahasa forum organisasi—penuh harapan sekaligus aman dari potensi kegaduhan.
Namun justru karena terlalu indah, tema itu perlu sedikit “diganggu” dengan pertanyaan sederhana: yang bertumbuh ini sebenarnya apa? Ideologinya, keberpihakannya, atau sekadar baliho organisasinya?
Sebab belakangan ini kita hidup di zaman ketika banyak organisasi tampak besar secara visual, tetapi kurus secara gagasan.
Kadernya ramai, acaranya megah, media sosialnya aktif, tetapi sensitivitas sosialnya makin menipis. Semua sibuk berbicara soal branding, tetapi lupa mendengar suara rakyat kecil yang makin megap-megap bertahan hidup di negeri sendiri.
Indonesia hari ini memang ironis. Negara terus berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi rakyat justru tumbuh dalam kecemasan. Harga kebutuhan naik, pekerjaan makin sulit, rumah makin tak terjangkau, pendidikan mahal, sementara elite politik sibuk memamerkan senyum di TikTok seolah negeri ini sedang baik-baik saja.
Yang lebih memprihatinkan, anak muda mulai didorong menjadi generasi yang rajin flexing tetapi malas berpikir. Semua ingin cepat terkenal, cepat kaya, dan cepat viral. Tidak banyak yang mau repot membaca kenyataan sosial secara serius.
Akibatnya, ruang publik dipenuhi motivator dadakan, tetapi miskin pemikir yang benar-benar peka terhadap ketimpangan.
Revitalisasi Gerakan Pemuda Muhammadiyah
Di titik inilah Pemuda Muhammadiyah seharusnya tidak ikut-ikutan menjadi organisasi yang sekadar sibuk mengurus pencitraan. Sebab kalau hanya ingin terlihat besar, buzzer politik juga bisa.
Muhammadiyah sejak awal lahir bukan untuk menjadi dekorasi moral kekuasaan. Ahmad Dahlan membangun gerakan ini dari kegelisahan sosial, bukan dari obsesi jabatan.
Spirit Al-Ma’un tidak lahir dari ruang rapat ber-AC, tetapi dari keberanian melihat kemiskinan sebagai problem iman sekaligus problem kemanusiaan.
Masalahnya, semakin besar organisasi, kadang semakin besar pula godaan untuk menjauh dari rakyat kecil. Aktivis lebih sibuk mencari posisi strategis ketimbang mendampingi masyarakat pinggiran.
Forum-forum organisasi dipenuhi istilah “kolaborasi”, tetapi minim keberanian mengkritik ketidakadilan struktural. Padahal rakyat sedang menghadapi banyak hal absurd.
Petani kalah oleh korporasi. Guru honorer menerima upah memprihatinkan. Anak muda dipaksa bersaing dalam dunia kerja yang makin tidak manusiawi. Bahkan pendidikan tinggi perlahan berubah seperti marketplace: siapa punya uang, dia punya akses lebih besar.
Sementara itu, negara kerap hadir dengan wajah yang ganjil: keras kepada rakyat kecil, tetapi lembut kepada pemilik modal.
Dalam situasi seperti ini, tema “mengakar” semestinya tidak berhenti menjadi spanduk forum. Mengakar berarti berani masuk ke realitas sosial yang tidak nyaman.
Berani berbicara tentang oligarki ekonomi, kerusakan lingkungan, korupsi sumber daya, hingga politik yang makin kehilangan etika.
Kalau tidak, organisasi pemuda hanya akan tumbuh sebagai administrasi, bukan sebagai gerakan.
Terus terang, tantangan terbesar organisasi Islam hari ini bukan kekurangan kader. Yang kurang adalah kader yang memiliki keberanian intelektual sekaligus sensitivitas sosial.
Banyak yang piawai membuat proposal kegiatan, tetapi gagap membaca penderitaan masyarakat.
Padahal bangsa ini tidak kekurangan orang saleh. Yang kurang adalah orang saleh yang mau berpihak.
Karena itu, Tanwir Pemuda Muhammadiyah 2026 seharusnya menjadi momentum untuk bertanya ulang: apakah kita masih benar-benar berdiri bersama kaum mustad’afin, atau justru mulai nyaman berada terlalu dekat dengan lingkar kekuasaan?
Sebab sejarah biasanya kejam terhadap organisasi yang melupakan akar sosialnya. Awalnya kehilangan keberpihakan, lalu kehilangan relevansi, dan akhirnya tinggal menjadi kenangan seremoni tahunan.
Selamat bertanwir, saudaraku.
I love Pemuda Muhammadiyah.
Editor : Novita





