Jenderal yang Tak Menunggu Telepon

- Admin

Senin, 18 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh  : Fauzi As

Kemarin saya duduk satu gazebo bersama Brigjen TNI Kohir. Bukan di ruang rapat mewah. Bukan pula di hotel berbintang.

Kami berbincang di sebuah gazebo sederhana di Desa Matanair, Kabupaten Sumenep. Di tengah kawasan integrated farming, di antara hamparan tanah, rumput, ternak, dan mimpi-mimpi kecil masyarakat desa yang sering kali luput dari perhatian negara.

Di tempat sederhana itu, saya melihat sesuatu yang mulai langka di tengah banyak pejabat hari ini: pemimpin yang bekerja dengan insting dan hati.

Beliau berbicara tentang tugas, rakyat, dan bagaimana seorang pemimpin tidak boleh bekerja hanya karena diperintah.

Kalimatnya sederhana, tetapi terasa menampar:
“Jangan sampai ditanya oleh pimpinan.”

Lalu ia melanjutkan:
“Kita harus memahami keinginan pimpinan, apalagi jika searah dengan kebutuhan rakyat.”

Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun di negeri yang terlalu banyak pejabat bergerak setelah ditegur, ucapan tersebut terasa seperti kritik yang sangat keras.

Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang baru bekerja setelah ada surat, tekanan, teguran, atau sesuatu yang viral. Bahkan tidak sedikit yang bekerja sekadar untuk laporan dan dokumentasi.

Namun Brigjen Kohir tampaknya berbeda.

Ia memahami bahwa tugas bukan sekadar menjalankan perintah, melainkan membaca keadaan sebelum keadaan berubah menjadi persoalan.

Mungkin itu pula yang membuat karier militernya terus menanjak hingga dipercaya menjadi Danrem 084/Bhaskara Jaya Surabaya, menggantikan Brigjen TNI Danny Alkadrie.

Tetapi bagi saya, pangkat bukan bagian paling menarik dari dirinya.

Yang menarik justru cara berpikirnya.

Di tengah kultur birokrasi yang sering lamban, Brigjen Kohir tampak memiliki pola kerja teritorial yang hidup. Ia tidak memandang rakyat sebagai objek seremoni, melainkan denyut utama pengabdian.

Selama memimpin Korem 083/Baladhika Jaya Malang, ia dikenal humanis, komunikatif, dan aktif membangun pendekatan persuasif dengan masyarakat. Ia mendorong prajurit hadir di tengah persoalan sosial, bukan sekadar menjaga barak dan menjalankan rutinitas administratif.

Mungkin di situlah letak kekuatannya.

Ia memahami bahwa keamanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal perut rakyat, ketahanan sosial, pertanian, ekonomi desa, hingga kepercayaan masyarakat kepada negara.

Di Matanair waktu itu, saya melihat matanya lebih banyak memandang masa depan desa daripada sibuk membicarakan dirinya sendiri.

Ia berbicara tentang inisiatif, membaca arah sebelum diperintah, dan bagaimana seorang prajurit seharusnya tidak menjadi robot birokrasi.

Terus terang, ucapan itu terasa semakin mahal di negeri yang terlalu lama dipenuhi mental “asal bapak senang”.

Sebab faktanya, banyak pemimpin hari ini lebih takut kepada atasan daripada takut mengecewakan rakyat.

Banyak yang sibuk mencari aman. Sedikit yang berani mengambil langkah.

Brigjen Kohir tampaknya memilih jalan kedua.

Mungkin itu pula sebabnya ia dipercaya memimpin wilayah strategis seperti Korem 084/Bhaskara Jaya Surabaya. Sebab Surabaya bukan wilayah biasa. Kota ini merupakan pusat ekonomi, pemerintahan, sekaligus denyut penting Jawa Timur.

Jabatan tersebut membutuhkan bukan hanya ketegasan militer, tetapi juga kecerdasan membaca situasi sosial masyarakat.

Dari percakapan sederhana di gazebo Matanair itu, saya menangkap satu hal:
Brigjen Kohir bukan tipe pemimpin yang menunggu masalah datang ke meja. Ia lebih memilih mendatangi realitas sebelum realitas berubah menjadi ancaman.

Menariknya lagi, pada 17 Mei kemarin beliau genap berusia 49 tahun. Usia yang masih sangat produktif bagi seorang perwira tinggi.

Namun jika umur dihitung dari ritme kerja, tekanan tugas, dan sedikitnya waktu istirahat, mungkin “usia pengabdiannya” jauh lebih tua daripada angka di kartu identitas.

Sebab banyak jenderal tidur delapan jam. Tetapi ada pula jenderal yang tidur sambil tetap memikirkan wilayahnya.

Dan Brigjen Kohir tampaknya masuk golongan kedua.

Beliau sendiri pernah bercerita tentang pentingnya memahami karakter pimpinan, terutama saat berbicara mengenai Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin.

“Beliau pekerja keras dan disiplin,” katanya.

Dari sana saya memahami satu hal: disiplin ternyata menular. Etos kerja juga menular.

Ketika pimpinan memiliki ritme kerja tinggi, maka bawahannya ikut dipaksa bergerak cepat.

Tidak ada ruang terlalu lama untuk bermalas-malasan, menunda pekerjaan, atau sekadar sibuk membuat laporan pencitraan.

Mungkin itu pula yang membuat Brigjen Kohir mampu beradaptasi dengan berbagai karakter kepemimpinan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai prajurit lapangan.

Ia tahu kapan harus tegas.
Ia tahu kapan harus mendengar.

Dan ia memahami bahwa rakyat tidak selalu membutuhkan pidato panjang. Kadang rakyat hanya membutuhkan pemimpin yang benar-benar hadir.

Di tengah banyak pejabat yang sibuk membangun citra di media sosial, masih ada orang-orang yang diam-diam membangun kerja nyata di lapangan.

Mungkin Brigjen Kohir salah satunya.

Melalui tulisan sederhana ini, saya pribadi mengucapkan:

Selamat ulang tahun ke-49 Brigjen TNI Kohir.

Semoga tetap sehat, kuat, rendah hati, dan terus menjadi pemimpin yang bekerja bukan karena takut ditegur atasan, melainkan karena takut mengecewakan rakyat.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak terlalu peduli berapa bintang di pundak seorang pemimpin.

Rakyat hanya ingin tahu satu hal sederhana:

“Ketika kami susah, apakah pemimpin itu hadir… atau hanya muncul saat kamera dinyalakan?”

Facebook Comments Box

Editor : Novita

Berita Terkait

KEK Madura Harga Diri Pulau Garam
Serapan Anggaran Melambat, Disparitas Membesar
Dinamika Peran dan Kewenangan MPR–DPR RI dari Orde Lama hingga Era Reformasi
Dampak Globalisasi Terhadap Negara-Negara Miskin
Prabowonomics Manifest Dalam Perumahan Rakyat?
Majelis Hakim Perkara GU 5 Hektare: Tunjukkan Kewibawaan Hakimmu!
Revitalisasi Pariwisata Sumenep – Studi Kasus Pantai Lombang
Onshore Kangean Bukan Ancaman – Melainkan Harapan Masa Depan Madura

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 13:10 WIB

Jenderal yang Tak Menunggu Telepon

Senin, 11 Mei 2026 - 22:24 WIB

KEK Madura Harga Diri Pulau Garam

Sabtu, 18 April 2026 - 10:46 WIB

Serapan Anggaran Melambat, Disparitas Membesar

Minggu, 8 Februari 2026 - 20:03 WIB

Dinamika Peran dan Kewenangan MPR–DPR RI dari Orde Lama hingga Era Reformasi

Selasa, 3 Februari 2026 - 04:01 WIB

Dampak Globalisasi Terhadap Negara-Negara Miskin

Berita Terbaru

Opini

Jenderal yang Tak Menunggu Telepon

Senin, 18 Mei 2026 - 13:10 WIB