Sumenep — Hiruk-pikuk Pemilihan Duta Kampus Uniba Madura kian memanas. Setelah panitia berhasil menggandeng 30 sponsor dan memastikan acara siap digelar megah, pihak rektorat justru mendadak menerbitkan SK pemberhentian kegiatan, langkah yang memicu tanda tanya besar di kalangan mahasiswa.
SK tersebut terbit di saat kampus tengah dihebohkan isu dugaan adanya calon “titipan” yang ternyata tidak lolos sebagai peserta resmi. Sosok yang disebut-sebut dekat dengan lingkaran tertentu itu tidak masuk dalam daftar peserta, memunculkan dugaan adanya tarik-ulur kepentingan di balik proses seleksi.
Seleksi tahap pertama sendiri telah tuntas dilaksanakan, dan kegiatan bersiap memasuki tahap kedua. Namun semuanya terhenti setelah pihak kampus mengeluarkan SK pembekuan kegiatan tertanggal 19 November, yang ditandatangani Ketua Senat Uniba Madura, Budi Siswanto.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Riski, salah satu mahasiswa Uniba, menilai kebijakan tersebut terlalu sepihak dan mencederai kerja keras panitia yang telah mempersiapkan kegiatan sejak awal.
“Pihak rektor, khususnya ketua senat, tidak seharusnya langsung membekukan panitia tanpa penjelasan terbuka. Publik kampus berhak tahu apa persoalannya,” ujarnya.
Riski juga mempertanyakan nasib peserta yang telah lolos seleksi tahap pertama. Menurutnya, pembekuan ini menimbulkan ketidakjelasan, bahkan berpotensi merugikan peserta yang telah mempersiapkan diri.
Ia mendesak agar SK pembekuan dicabut karena dianggap bentuk intervensi berlebihan terhadap panitia.
“SK ini justru menimbulkan persepsi bahwa ada kepentingan tertentu yang ingin diamankan, apalagi muncul berbarengan dengan isu calon titipan yang tidak lolos,” tambahnya.
Di tengah minimnya klarifikasi, publik kampus membangun tafsir masing-masing. SK yang turun secara tiba-tiba dinilai banyak pihak sebagai sinyal adanya tekanan internal, sekaligus dugaan bahwa pembekuan kegiatan terkait dengan tidak lolosnya calon tertentu.
Hingga berita ini dirilis, pihak rektorat belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan penghentian kegiatan menjelang seleksi tahap kedua. Dinamika internal kian menguat, dan ajang bergengsi ini berubah menjadi sorotan tajam mahasiswa yang mendesak transparansi dan kejelasan prosedur.
Pemilihan Duta Kampus Uniba Madura yang seharusnya menjadi ruang aktualisasi prestasi kini justru berubah menjadi panggung kontroversi. Seleksi tahap kedua tak dapat dilaksanakan, sementara peserta yang lolos tahap pertama dibuat bingung menanti kejelasan lanjutan. (Jk/red)





