BANYUWANGI – Di tengah menjamurnya budaya ngopi di kawasan perkotaan, Direktur Naghfir’s Institute Study, Dr. Naghfir, S.H.I., S.H., M.Kn., memilih menelusuri akar industri kopi secara langsung. Pada Sabtu (27/12/2025), ia melakukan kunjungan studi ke Rumah Kopi Banyuwangi untuk mempelajari proses produksi kopi dari hulu hingga hilir.
Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat literasi kopi, tidak hanya bagi penikmat, tetapi juga petani dan pelaku industri kopi lokal. Naghfir menilai, pemahaman menyeluruh terhadap rantai produksi menjadi kunci agar kopi Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas konsumsi, melainkan mampu menjadi penggerak ekonomi rakyat.
“Kopi lahir dari proses panjang yang sering kali tidak terlihat. Mulai dari tanah, kerja keras petani, hingga pengolahan yang sangat menentukan nilai jual,” ujar Naghfir di sela kunjungan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Selama berada di Rumah Kopi Banyuwangi, Naghfir mengikuti secara langsung tahapan pengolahan kopi, mulai dari panen hingga pascapanen. Ia mempelajari sejumlah metode pengolahan, di antaranya olah kering dan olah basah, termasuk wine process robusta yang belakangan mulai diminati pasar.
Menurutnya, pilihan metode pengolahan tidak hanya memengaruhi karakter rasa kopi, tetapi juga berdampak pada daya saing dan posisi tawar kopi lokal di pasar nasional maupun global.
Selain itu, Naghfir menyoroti kekayaan varietas kopi Nusantara seperti kopi luwak, kopi lanang, dan arabika. Ia menilai keberagaman tersebut merupakan modal besar Indonesia. Namun, tanpa pengelolaan yang berbasis pengetahuan dan pendampingan yang memadai, potensi tersebut berisiko kalah bersaing dengan dominasi industri kopi global.
“Kita memiliki kekayaan genetik dan kultural yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan itu benar-benar dimiliki oleh petani dan pelaku di tingkat bawah, bukan hanya dikuasai pasar,” tegasnya.
Alumnus Program Doktor Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu juga melihat kopi sebagai medium sosial yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, kopi sejak lama menjadi ruang perjumpaan lintas daerah dan kelas sosial, sekaligus simpul yang merekatkan masyarakat Nusantara.
“Kopi adalah perekat peradaban. Ia mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda dalam satu meja,” ungkapnya.
Melalui penguatan literasi kopi, Naghfir berharap tumbuh kesadaran kolektif untuk menjaga keberlanjutan ekosistem kopi, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menempatkan kopi sebagai bagian strategis dari pembangunan ekonomi berbasis rakyat. Ia menilai, tanpa perubahan cara pandang, kopi Indonesia akan terus berada di posisi marginal dalam rantai nilai global. (Jk/red)





