Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Faktor Ekspektasi dan “Noise” Domestik Berpengaruh

- Admin

Sabtu, 25 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah merupakan ranah Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Namun demikian, ia menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, melainkan juga ekspektasi pasar yang terbentuk dari dinamika di dalam negeri.

“Noise (kebisingan) di dalam negeri itu yang membentuk ekspektasi. Jadi kita harus mengendalikan ekspektasi itu, tapi itu bukan wilayah saya,” ujar Purbaya dalam media briefing di Gedung Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, ekspektasi negatif muncul akibat persepsi bahwa perekonomian Indonesia tengah memburuk dan rupiah akan terus tertekan. Padahal, ia menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat.

“Dengan kondisi fundamental seperti sekarang, untuk membaliknya tidak terlalu rumit,” katanya.

Purbaya juga membandingkan dengan negara lain seperti Malaysia dan Thailand, di mana mata uang masing-masing menunjukkan tren berbeda. Ia menilai pergerakan nilai tukar tiap negara dipengaruhi kebijakan dan kondisi spesifik masing-masing.

“Fondasi ekonomi Indonesia tidak berubah, bahkan akan tumbuh lebih cepat,” ujarnya optimistis.

Pemerintah, lanjutnya, akan terus memperbaiki berbagai kendala yang menghambat perekonomian, termasuk meredam “noise” dari dalam negeri yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS terendah sepanjang masa sebelum akhirnya menguat ke Rp17.229 per dolar AS pada penutupan perdagangan.

Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, baik domestik maupun global. BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro pasar.

Langkah tersebut diambil untuk menjaga daya tarik aset domestik di tengah tekanan eksternal, termasuk dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Facebook Comments Box

Penulis : Rudi

Editor : Novita

Berita Terkait

Prabowo Minta Polri Jaga Kepercayaan Rakyat dan Terus Berbenah
Prabowo Hadiri Penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan
Roy Suryo dan dr Tifa Dikabarkan Ditangkap Polisi Terkait Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi
PKP Siapkan Rp2,2 Triliun untuk Percepat Pembangunan 2.603 Huntap Pascabencana di Sumatra
Pemerintah Naikkan Tunjangan Guru, Abdul Mu’ti: Bentuk Perhatian Presiden Prabowo
BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,5 Persen, Rupiah Tertekan Gejolak Global
Prabowo Optimistis Sekolah Rakyat Mampu Angkat Derajat Keluarga Miskin
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Tingkatkan Intervensi Pasar

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 12:49 WIB

Prabowo Minta Polri Jaga Kepercayaan Rakyat dan Terus Berbenah

Selasa, 23 Juni 2026 - 06:54 WIB

Prabowo Hadiri Penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:46 WIB

Roy Suryo dan dr Tifa Dikabarkan Ditangkap Polisi Terkait Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi

Jumat, 19 Juni 2026 - 04:09 WIB

PKP Siapkan Rp2,2 Triliun untuk Percepat Pembangunan 2.603 Huntap Pascabencana di Sumatra

Jumat, 12 Juni 2026 - 06:27 WIB

Pemerintah Naikkan Tunjangan Guru, Abdul Mu’ti: Bentuk Perhatian Presiden Prabowo

Berita Terbaru