Jakarta – Ketua Umum Relawan All Cipayung Nusantara, David Pajung, menyampaikan apresiasi terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang tidak menaikkan harga BBM subsidi di tengah gejolak krisis energi global.
Krisis tersebut dipicu ketegangan di kawasan Selat Hormuz yang berdampak pada terganggunya pasokan minyak dunia, termasuk akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi ini membuat banyak negara terpaksa menaikkan harga bahan bakar dalam negeri.
Namun, menurut David, pemerintah Indonesia mengambil langkah berbeda dengan menjaga stabilitas harga BBM subsidi demi melindungi daya beli masyarakat.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Pemerintah berhasil mencari alternatif pasokan dari berbagai negara serta mengoptimalkan sumber daya dalam negeri. Ini langkah yang cerdas dan patut diapresiasi,” ujar David dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/4/2026) di Jakarta.
Ia menilai, keputusan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat kecil yang sangat bergantung pada BBM subsidi, seperti Pertalite dan Solar.
“Ini adalah bentuk nyata proteksi negara. Di tengah krisis global, Indonesia mampu menunjukkan ketahanan energi nasional yang tetap kuat,” tambahnya.
Sementara itu, pada 18 April 2026, PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar.
Adapun rincian kenaikan harga BBM nonsubsidi adalah sebagai berikut:
- Pertamax Turbo (RON 98): sekitar Rp19.400 per liter
- Dexlite: sekitar Rp23.600 per liter
- Pertamina Dex: sekitar Rp23.900 per liter
Penyesuaian ini dilakukan sebagai respons terhadap fluktuasi harga minyak dunia, sementara pemerintah memastikan harga BBM subsidi tetap tidak berubah hingga akhir 2026.
“Alasan kenaikan BBM nonsubsidi adalah mengikuti harga pasar. Namun untuk BBM subsidi, pemerintah menjamin tetap stabil,” pungkas David.
Penulis : Rudi
Editor : Novita





