Bangkalan – Dalam rangkaian tasyakuran penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif al-Bangkalani, Lajnah Turots Ilmi menyampaikan dokumen historis kepahlawanan beliau. Penyampaian dilakukan oleh Lora Muhammad Ismail Al-Khalili dan Lora Muhammad Ismail Al-Ascholi.
Mewakili Lajnah, Lora Ismail mengungkap hingga kini telah ditemukan lebih dari 30 karya tulis Syaikhona Kholil dari berbagai bidang keilmuan. Belasan di antaranya telah dicetak dan dapat diakses oleh santri maupun pelajar umum.
“Syaikhona Muhammad Kholil bukan hanya ulama besar, tapi juga pendidik total yang menanamkan nilai keagamaan dan kebangsaan dalam setiap ajarannya,” ujar Ismail. Kamis malam (21/11/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu temuan penting adalah tulisan tangan beliau tahun 1891 yang menegaskan cinta tanah air sebagai bagian dari iman, merujuk pada hadis “Hubbul Wathan Minal Iman.” Hal ini memperkuat posisi Syaikhona Kholil sebagai tokoh pendidikan Islam yang relevan dengan semangat kebangsaan.
Lajnah juga menelusuri asal-usul gelar “Syaikhona” yang ternyata telah disematkan sejak beliau masih hidup, sebagaimana disebut dalam taklik karya Kiai Sholeh dalam kitab Al-Lujainuddani. Gelar ini mencerminkan ketakziman dan kedekatan spiritual para santri terhadap gurunya.
“Beliau bukan hanya guru pesantren, tapi episentrum jaringan keilmuan ulama Nusantara yang pengaruhnya melampaui batas regional hingga internasional,” tambahnya.
Syekhona Kholil terbukti telah mencetak banyak tokoh bangsa, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. As’as Ansori, KH. Mas Mansur, dan lainnya, banyak di antaranya kini juga diakui sebagai pahlawan nasional.
Lajnah Turots Ilmi menegaskan gelar Pahlawan Nasional ini bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan pintu masuk untuk menggali lebih dalam warisan pemikiran Syaikhona Kholil yang sangat dibutuhkan bangsa di era global saat ini.





