SUMENEP – Sejumlah penumpang KM Sabuk Nusantara 92 mengeluhkan buruknya pelayanan selama pelayaran dari Pelabuhan Kalianget menuju Pelabuhan Masalembu pada Selasa (17/3/2026), bertepatan dengan arus mudik Ramadhan.
Kapal yang dinahkodai Kapten Amri itu berangkat sekitar pukul 09.30 WIB dengan kondisi penumpang padat. Salah satu penumpang, Hidayat, mengatakan dirinya bersama enam anggota keluarga telah menempati tempat tidur sesuai tiket.
Namun, sekitar pukul 10.30 WIB, kondisi di dek bawah berubah menjadi tidak nyaman. Suhu panas yang ekstrem membuat penumpang, terutama yang menjalankan ibadah puasa, mengalami dehidrasi.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Panasnya sangat luar biasa. Anak saya sampai sesak napas, dan banyak anak-anak lain menangis karena tidak kuat,” ujar Hidayat.
Ia mengaku telah melaporkan kondisi tersebut kepada kru kapal dan meminta agar blower atau kipas angin di dek bawah dinyalakan. Namun, respons yang diterima dinilai tidak solutif.
“Kami malah disuruh tanya ke bagian mesin, bahkan diminta menyediakan colokan sendiri kalau ingin menyalakan kipas,” katanya.
Tidak puas, penumpang kemudian mendatangi anjungan kapal untuk meminta penjelasan langsung. Kru kapal menyebut kondisi penumpang yang diduga melebihi kapasitas membuat pendingin udara tidak bekerja maksimal dan berjanji melakukan pengecekan. Namun, kondisi di dek bawah tidak kunjung membaik.
Menjelang waktu salat Dzuhur, sejumlah penumpang memilih bertahan di musala untuk menghindari panas. Namun, kru kapal justru meminta mereka keluar dari ruangan tersebut.
Situasi serupa kembali terjadi menjelang salat Asar. Penumpang yang merasa tidak kuat berada di dek bawah tetap bertahan di musala meski mendapat teguran dari kru.
Akibat kondisi tersebut, banyak penumpang memilih naik ke dek atas, bahkan duduk dan berbaring di pinggir kapal demi mendapatkan udara segar.
Puncak ketegangan terjadi sekitar pukul 21.30 WIB saat kapal hendak sandar. Kapten Amri disebut turun langsung ke musala dan meminta penumpang segera mengosongkan ruangan.
Permintaan tersebut memicu protes dari penumpang yang saat itu dalam kondisi kelelahan, bahkan beberapa anak mengalami gangguan pernapasan akibat panas di dek bawah.
“Kami sudah tidak kuat di bawah, anak saya juga masih sesak napas. Tapi tetap diminta keluar tanpa solusi,” ungkap Hidayat.
Penumpang kemudian menyampaikan protes langsung kepada kapten terkait kondisi AC dan blower di dek bawah yang tidak berfungsi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak operator PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) terkait keluhan tersebut. (Jk/red)





