SUMENEP – Apa yang terjadi ketika ruang belajar anak-anak berpindah dari kelas ke markas prajurit?
Puluhan siswa SD QISMu mendapat jawabannya saat mengikuti outing class di Batalyon Infanteri TP 931/Ksatria Jokotole. Bukan sekadar berkunjung, para siswa diajak melihat dari dekat kehidupan prajurit, menyaksikan latihan, mengenal perlengkapan TNI hingga melihat bagaimana ketahanan pangan dikembangkan di lingkungan batalyon.
Kegiatan yang digelar pada 26 September 2026 itu merupakan agenda outing class rutin SD QISMu yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali. Seluruh siswa dan guru mengikuti kegiatan yang dirancang sebagai pembelajaran langsung di luar kelas.
Kepala SD QISMu, Yunita Rika Astari, mengatakan pihaknya sengaja memilih lingkungan Yonif TP 931 karena ingin menghadirkan pengalaman belajar yang tidak bisa sepenuhnya diperoleh siswa dari buku pelajaran.
“Anak-anak perlu melihat langsung. Mereka perlu tahu bahwa disiplin itu bukan hanya sebuah kata yang kita tulis di papan kelas, tetapi sesuatu yang benar-benar dilakukan setiap hari,” ujarnya.
Menurutnya, sosok prajurit dipilih sebagai salah satu sumber belajar karena memiliki banyak nilai yang relevan dengan pembentukan karakter siswa, mulai dari kedisiplinan, kerja keras, tanggung jawab hingga semangat pantang menyerah.
“Harapan kami, ketika anak-anak melihat bagaimana para prajurit berlatih, bekerja dan menjalankan tugas, mereka bisa mengambil nilai positifnya. Bukan untuk menjadi tentara semuanya, tetapi belajar dari karakter seorang prajurit,” katanya.
Kedatangan rombongan SD QISMu disambut langsung para prajurit yang dipimpin Komandan Yonif TP 931/Ksatria Jokotole, Mayor Infanteri Aditya Danang Putranto, S.ST.Han., M.I.P.
Sejak awal kunjungan, siswa sudah disuguhi aktivitas khas kehidupan prajurit. Mereka menyaksikan latihan baris-berbaris dan pencak silat yang diperagakan para prajurit.
Namun pengalaman mereka tidak berhenti di lapangan latihan.
Para siswa kemudian diajak melihat sisi lain kehidupan di lingkungan batalyon. Mereka mengunjungi area pertanian, peternakan kambing, ayam dan kelinci, hingga kolam perikanan ikan lele.
Di tempat tersebut, para prajurit menjelaskan secara langsung aktivitas yang dilakukan. Siswa bahkan diberi kesempatan memberikan pakan kepada hewan ternak dan melihat lebih dekat proses pengelolaan sektor pertanian, peternakan dan perikanan.
Bagi siswa, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang berbeda. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi dapat melihat, menyentuh dan mencoba secara langsung.
Suasana semakin menarik ketika siswa diperkenalkan dengan perlengkapan prajurit. Mereka melihat senjata dan kostum TNI serta mendapat kesempatan menaiki kendaraan yang digunakan para prajurit dengan pendampingan.
Kepala SD QISMu menilai pengalaman seperti itu penting untuk memperluas cara pandang siswa terhadap profesi TNI.
“Selama ini anak-anak mungkin mengenal tentara hanya dari seragam dan tugas menjaga keamanan. Di sini mereka bisa melihat bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari, termasuk bagaimana prajurit ikut mengembangkan ketahanan pangan,” jelasnya.
Ia berharap pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai kenangan outing class, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa.
“Kami ingin anak-anak pulang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar foto. Mereka membawa pengalaman, nilai disiplin, semangat bekerja keras dan keberanian untuk bermimpi,” katanya.
Menurutnya, pendidikan karakter akan lebih mudah diterima ketika anak-anak melihat contoh nyata di hadapan mereka.
“Anak-anak harus berani punya mimpi besar. Tugas sekolah adalah membuka sebanyak mungkin jendela pengalaman agar mereka tahu bahwa dunia ini luas dan banyak hal yang bisa mereka capai,” pungkasnya.
Penulis : Mahmudi
Editor : Novita






