Ancaman El Nino, Pemerintah Genjot Pompanisasi Pertanian

- Admin

Minggu, 4 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga produksi padi nasional di tengah ancaman El Nino dan keterbatasan air. Salah satu strategi yang dilakukan ialah memperkuat pengelolaan air dan mengoptimalkan pompanisasi di wilayah yang menghadapi kekeringan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah berupaya memastikan lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air sehingga petani dapat mempertahankan aktivitas produksi.

“Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga produksi tetap berjalan, terutama melalui penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang menghadapi keterbatasan air,” kata Amran di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, pemerintah tidak ingin petani menghadapi tantangan produksi seorang diri. Dukungan sarana produksi dan pengelolaan air terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” ujar Amran.

Upaya tersebut berjalan seiring dengan capaian produksi padi nasional yang masih menunjukkan pertumbuhan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi pada Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan angka tersebut merupakan hasil penghitungan berdasarkan luas panen dan produktivitas padi yang telah berstatus angka tetap.

“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” kata Ateng.

Pertumbuhan juga terlihat dari luas panen. BPS mencatat luas panen padi Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, naik 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan produksi padi tersebut turut menopang produksi beras untuk konsumsi masyarakat. Pada periode yang sama, produksi beras nasional tercatat mencapai 25,29 juta ton, meningkat 0,07 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025.

“Dengan demikian untuk produksi beras pada kondisi Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng.

Meski menunjukkan pertumbuhan, produksi padi nasional masih menghadapi tantangan perubahan cuaca dan potensi El Nino. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta memengaruhi ketersediaan air bagi lahan pertanian.

BPS memastikan angka produksi Januari-Agustus 2026 telah berstatus angka tetap karena penghitungan luas panen dan produktivitas pada periode tersebut menggunakan data final. Sementara produksi September-November 2026 masih berstatus angka potensi dan produktivitasnya masih berupa angka sementara.

Realisasi produksi pada periode tersebut masih dapat berubah mengikuti kondisi di lapangan, antara lain akibat perubahan cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, maupun perubahan waktu panen.

Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah wilayah sentra masih memiliki potensi panen pada September-November 2026. Wilayah tersebut antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Di Jawa Barat, sejumlah potensi panen berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, dan Bekasi. Sementara di Jawa Timur terdapat Ngawi. Adapun di Sulawesi, sejumlah sentra antara lain Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, dan Banggai.

Dengan produksi padi yang telah mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus 2026, produksi nasional masih mencatat pertumbuhan meski sektor pertanian menghadapi tantangan iklim.

Pemerintah pun terus memperkuat pengelolaan air dan pompanisasi sebagai bagian dari langkah mitigasi untuk menjaga produktivitas pertanian dan memastikan produksi pangan tetap terjaga hingga akhir tahun.

Facebook Comments Box

Penulis : Rudi

Editor : Novita

Berita Terkait

Potensi Laut Besar, Sumenep Mulai Menata Industri Perikanan dari Kepulauan
Wabup Sumenep: Semangat Kemerdekaan Harus Tercermin dalam Pelayanan Publik
Pemerintah Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak, Fokus Perluas Basis Penerimaan Negara
Kejagung Terima Pelimpahan Tiga Kasus Korupsi, 74 Kg Emas dan Valas Miliaran Disita
Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Cilacap, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
BRIN: Satelit Jadi Fondasi Kedaulatan Digital Indonesia di Usia 50 Tahun Palapa
KPK OTT Bupati Langkat Syah Afandin, Diduga Terkait Suap Proyek
Prabowo Minta Polri Jaga Kepercayaan Rakyat dan Terus Berbenah

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 13:49 WIB

Ancaman El Nino, Pemerintah Genjot Pompanisasi Pertanian

Selasa, 1 September 2026 - 17:47 WIB

Potensi Laut Besar, Sumenep Mulai Menata Industri Perikanan dari Kepulauan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 07:56 WIB

Wabup Sumenep: Semangat Kemerdekaan Harus Tercermin dalam Pelayanan Publik

Rabu, 15 Juli 2026 - 14:59 WIB

Pemerintah Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak, Fokus Perluas Basis Penerimaan Negara

Sabtu, 11 Juli 2026 - 08:57 WIB

Kejagung Terima Pelimpahan Tiga Kasus Korupsi, 74 Kg Emas dan Valas Miliaran Disita

Berita Terbaru

Nasional

Ancaman El Nino, Pemerintah Genjot Pompanisasi Pertanian

Minggu, 4 Okt 2026 - 13:49 WIB

Opini

Kesaktian Pancasila di Tengah Krisis Integritas Bangsa

Kamis, 1 Okt 2026 - 06:40 WIB