SUMENEP — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi di wilayah kepulauan, tepatnya di Desa Saur Saebus, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat terganggu hingga memicu lonjakan harga di tingkat pengecer.
Dalam beberapa hari terakhir, warga kesulitan mendapatkan BBM. Antrean panjang terlihat di sejumlah titik, sementara stok yang tersedia sangat terbatas. Di sisi lain, harga BBM melonjak tajam dan jauh dari harga normal.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Sekarang cari BBM sangat susah. Kalau pun ada, harganya mahal sekali. Kami jadi kesulitan beraktivitas,” ujar Yuliana, warga Desa Saur Saebus.
Dampak kelangkaan ini dirasakan hampir di seluruh sektor. Para nelayan terpaksa mengurangi bahkan menghentikan aktivitas melaut karena ketiadaan bahan bakar. Sementara itu, transportasi antar desa ikut tersendat, menyebabkan distribusi kebutuhan pokok terhambat.
Wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sapeken memang sangat bergantung pada pasokan BBM dari luar daerah. Ketika distribusi terganggu, masyarakat langsung merasakan dampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kenaikan harga BBM di tingkat pengecer turut memicu lonjakan harga barang kebutuhan pokok. Kondisi ini semakin membebani ekonomi warga di tengah keterbatasan akses dan pasokan.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi krisis tersebut, mulai dari memperlancar distribusi hingga memperketat pengawasan harga di lapangan.
“Kalau kondisi ini terus berlanjut, kami bisa benar-benar lumpuh,” tambah Yuliana dengan nada cemas.
Kelangkaan BBM di Desa Saur Saebus kembali menegaskan bahwa persoalan distribusi energi di wilayah kepulauan masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian dan solusi nyata dari pemerintah.





