BANYUWANGI – Warna-warni tradisi masyarakat Osing kembali menghiasi kalender budaya Bumi Blambangan melalui perhelatan Ithuk-ithukan di Desa Labanasem, Kecamatan Kabat. Tradisi unik yang digelar setiap tanggal 12 Dzulqo’dah ini bukan sekadar ritual makan bersama, melainkan simbol rasa syukur yang mendalam atas melimpahnya sumber air dan kesuburan tanah yang menghidupi warga.
Ketua panitia, M. Khoirul Anwar, menjelaskan bahwa penggunaan “ithuk” sebagai wadah makanan memiliki filosofi yang kuat.
“Penggunaan ‘ithuk’ atau wadah nasi dari daun pisang ini mencerminkan kesederhanaan dan kedekatan manusia dengan alam. Kami berarak membawa makanan menuju sumber air sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih kepada Sang Pencipta. Harapannya, kerukunan warga tetap terjaga dan hasil panen terus melimpah,” ungkapnya.
Nama “ithuk” sendiri merujuk pada piring dari anyaman bambu yang dialasi daun pisang. Dalam tradisi ini, ribuan warga membawa ithuk berisi kuliner khas seperti ayam pedas dan pecel pitik menuju area sumber mata air.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Rangkaian kegiatan dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan arak-arakan tumpeng, hingga ditutup dengan makan bersama di sepanjang jalan desa menuju sumber air. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga sarat makna spiritual dan ekologis.
Secara implisit, Ithuk-ithukan mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan sumber mata air dari sampah. Air dipandang sebagai berkah suci yang harus dijaga keberlanjutannya oleh seluruh masyarakat.
Lebih dari sekadar tradisi, Ithuk-ithukan kini berkembang sebagai daya tarik wisata budaya yang orisinil. Hal ini semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai daerah yang kaya akan kearifan lokal.
Melalui peran aktif panitia dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat, tradisi ini mampu mempererat tali silaturahmi. Di sisi lain, ritual ini juga menjadi doa kolektif para petani agar sistem irigasi di wilayah Kabat tetap stabil demi menunjang produktivitas pertanian.
Dengan dukungan pemerintah daerah melalui rangkaian Banyuwangi Festival, Tradisi Ithuk-ithukan di Desa Labanasem terus lestari. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus modernisasi, nilai-nilai luhur masyarakat Osing tetap hidup mengajarkan rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap alam.
Penulis : Aldi Santoso
Editor : Novita





