SUMENEP – Dentuman rotan yang saling beradu di arena Pantai Galung, Desa Juruan Daja, Kecamatan Batuputih, kembali menggema dalam Festival Ojung yang masuk dalam Kalender Event 2026.
Pemerintah Kabupaten Sumenep menunjukkan komitmen kuat dalam melestarikan budaya lokal melalui penyelenggaraan festival tersebut. Tradisi Ojung tidak sekadar dihadirkan sebagai tontonan, melainkan menjadi simbol kearifan lokal yang terus dijaga agar tidak tergerus oleh zaman.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep, Agus Dwi Saputra, menegaskan bahwa Ojung memiliki nilai lebih dari sekadar pertunjukan budaya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Tradisi Ojung bukan sekadar pertunjukan, tetapi mengandung nilai kebersamaan, keberanian, dan sportivitas yang menjadi bagian dari jati diri masyarakat Sumenep. Melalui festival ini, kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Di tengah perkembangan zaman, inovasi tetap kami lakukan tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang menjadi ruh utama Ojung,” ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, festival ini terus dikemas lebih menarik melalui berbagai inovasi, mulai dari penataan lokasi, promosi digital, hingga kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif. Meski demikian, nilai-nilai tradisional tetap dipertahankan sebagai ruh utama dalam setiap pelaksanaannya.
Ojung sendiri merupakan tradisi unik berupa adu ketangkasan dua orang menggunakan rotan, dengan sistem bergantian memukul tubuh lawan. Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari ritual masyarakat, termasuk sebagai upaya simbolik memohon hujan saat musim kemarau serta menghindari bencana.
Lebih dari itu, festival ini menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Masyarakat berkumpul, berinteraksi, dan merayakan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Pemerintah daerah optimistis Festival Ojung akan terus berkembang menjadi ikon budaya yang membanggakan, sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Sumenep. Di tengah arus modernisasi, Ojung tetap berdiri sebagai penanda jati diri masyarakat tradisi lama yang terus hidup, beradaptasi, dan mengakar kuat di tanah Madura.





