Rebana Assalafiyah Rekam “Terbang Karatangan” di Sumenep, Lestarikan Warisan 300 Tahun

- Admin

Rabu, 1 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

SUMENEP – Upaya pelestarian warisan budaya Islam Nusantara terus dilakukan. Kelompok Kesenian Rebana Klasik Assalafiyah asal Larangan, Pamekasan, menjalani proses rekaman profesional di OS Studio, Kabupaten Sumenep, Selasa (31/3/2026).

Rekaman ini bertujuan untuk mendokumentasikan “Terbang Karatangan”, pakem rebana khas Pamekasan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengampu Grup Rebana Assalafiyah, Kiai Jawahir, mengungkapkan bahwa alat musik rebana yang digunakan bukanlah instrumen biasa. Rebana tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 300 tahun dan menjadi saksi perjalanan panjang tradisi.

Sementara itu, promotor grup, Mpu Fauzi, menegaskan bahwa langkah rekaman profesional ini penting untuk menjaga keutuhan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Langkah merekam secara profesional di studio ini kami ambil agar nilai dokumentasinya menjadi purna dan utuh,” ujarnya.

Proses rekaman ini mendapat dukungan penuh dari Rifan Khoridi, pemilik OS Studio sekaligus pemerhati seni tradisional, khususnya seni tetabuhan. Ia menilai langkah tersebut sebagai terobosan penting dalam menjaga keberlangsungan budaya leluhur.

“Ini adalah langkah paling jitu untuk menjaga nilai-nilai dan heritage warisan leluhur agar tidak lekang oleh waktu,” kata Rifan.

Kelompok Rebana Assalafiyah sendiri terdiri dari 12 penabuh rebana dan 7 hingga 10 anggota tim ruddat yang menampilkan koreografi khas. Formasi ini memperlihatkan perpaduan harmonis lintas generasi, mulai dari para sesepuh seperti Rifa’i, Supandi, Sun, Pasulah, dan H. Syaiful, hingga generasi muda seperti Adul Adim, Rahmad, Fauzi, Umam, Rian, dan Berril.

Lebih dari sekadar seni, kegiatan ini juga menjadi sarana ibadah dan penguatan spiritual. Melalui lantunan selawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, kelompok ini berharap dapat menumbuhkan kecintaan kepada Rasul.

Salah satu bait syair yang mereka bawakan berbunyi, “Man Yamut Fi Hubbihi Nala Kullal Mathlabi,” yang bermakna siapa yang wafat dalam cinta kepada Rasul, maka ia telah mencapai segala yang dicita-citakan.

Melalui hasil rekaman yang akan dirilis dalam format fisik maupun digital, diharapkan generasi mendatang tetap dapat menikmati keaslian tabuhan “Terbang Karatangan” yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Facebook Comments Box

Penulis : Joko S

Editor : Novita

Berita Terkait

Festival Ojung Sumenep 2026 Menggema, Tradisi Leluhur Kian Diperkuat
Gibran Rakabuming Raka Ajak Perkuat Toleransi di Pawai Paskah Kupang
Indriato Puji Utomo Tekankan Nilai Kemanusiaan dalam Halal Bihalal PERADI Banyuwangi
Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Kristiani Doakan Kedamaian di Hari Paskah 2026
Bupati Sumenep Ucapkan Selamat atas HBH IKSADARA ke XIX, Tekankan Silaturahmi
Buka Puasa Bersama Jadi Momentum Bang Ali Pererat Hubungan dengan Jurnalis dan LSM di Pamekasan
Enam Tahun Berjalan, Khotmil Qur’an Mingguan Pemkab Sumenep Terus Dilestarikan
Kedua Kalinya, Praneda Care Foundation Dukung Pemulihan Aceh Tamiang Lewat Bantuan Peralatan Vital

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 12:39 WIB

Festival Ojung Sumenep 2026 Menggema, Tradisi Leluhur Kian Diperkuat

Selasa, 7 April 2026 - 10:21 WIB

Gibran Rakabuming Raka Ajak Perkuat Toleransi di Pawai Paskah Kupang

Minggu, 5 April 2026 - 11:10 WIB

Indriato Puji Utomo Tekankan Nilai Kemanusiaan dalam Halal Bihalal PERADI Banyuwangi

Sabtu, 4 April 2026 - 10:04 WIB

Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Kristiani Doakan Kedamaian di Hari Paskah 2026

Rabu, 1 April 2026 - 12:02 WIB

Rebana Assalafiyah Rekam “Terbang Karatangan” di Sumenep, Lestarikan Warisan 300 Tahun

Berita Terbaru

Opini

Serapan Anggaran Melambat, Disparitas Membesar

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:46 WIB