SURABAYA – Pelajar dan pemuda Madura menyatakan sikap tegas menolak premanisme menyusul pengrusakan rumah Nenek Elina di Surabaya yang diduga dilakukan oleh oknum MADAS harus diproses hukum. Mereka menilai peristiwa tersebut sebagai pelanggaran hukum murni yang tidak berkaitan dengan isu etnis.
Kasus ini memicu reaksi luas masyarakat Surabaya dan aksi solidaritas Arek-arek Suroboyo yang menuntut penegakan hukum. Situasi tersebut sempat dikhawatirkan memicu ketegangan sosial bernuansa etnis, sehingga pelajar dan pemuda Madura memilih menempuh jalur dialog.
Pada Selasa (30/12/2025), perwakilan pelajar dan pemuda Madura di Surabaya, Rofsanjani (Robby), berkomunikasi dengan tokoh Arek-arek Suroboyo, Purnama. Keduanya sepakat menolak segala bentuk premanisme, mendukung penuh penegakan hukum kasus Nenek Elina, serta mengawal proses hukum agar berjalan profesional.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Peristiwa yang menimpa Nenek Elina adalah pelanggaran hukum murni dan sama sekali tidak berkaitan dengan etnis Madura. Kami menolak segala bentuk premanisme di Surabaya,” ujar Robby.
Kesepakatan juga menegaskan pentingnya menjaga Surabaya tetap kondusif dan bebas dari praktik premanisme. Organisasi masyarakat atau oknum ormas diminta menjaga harmonisasi wilayah serta mengevaluasi anggotanya agar tidak melakukan tindakan arogan dan meresahkan.
Robby mengimbau masyarakat Madura di perantauan, khususnya Surabaya, untuk ikut jogo Suroboyo, tidak terprovokasi isu etnis, serta menjaga kerukunan demi terciptanya lingkungan yang aman dan damai.(Jk/red)





