13 Daerah Tampilkan Seni Tradisi di Sumenep, Bupati: Budaya Harus Terus Berkembang

- Admin

Selasa, 1 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP – Madura Culture Festival (MCF) 2026 menjadi ruang pertemuan seniman dan pelaku budaya dari 13 kabupaten/kota. Festival ini tidak hanya menampilkan ragam kesenian daerah, tetapi juga menjadi momentum untuk memastikan seni tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Gelaran tersebut berlangsung di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep, Sabtu (29/08/2026) malam. Berbagai kesenian khas daerah ditampilkan, mulai dari Madura, kawasan Tapal Kuda hingga sejumlah daerah lain di Jawa Timur.

Kabupaten Sumenep tampil dengan Tari Sonar Mosem Nemor. Sementara Bangkalan membawa Tari Arojung Paseseran, Sampang menampilkan Tari Kerabhen Sape, dan Pamekasan dengan Tari Sandoreng. Adapun Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Malang, Blitar, Probolinggo, Tuban, dan Nganjuk turut memperlihatkan karakter budaya masing-masing melalui pertunjukan seni.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan keberagaman yang ditampilkan dalam MCF menunjukkan besarnya kekayaan seni dan budaya Jawa Timur. Menurut dia, kekayaan tersebut akan terus berkembang apabila tersedia ruang yang cukup bagi seniman untuk berkarya dan masyarakat untuk mengapresiasinya.

“Jawa Timur kaya dengan seni dan budaya yang merupakan bagian penting dari identitas setiap daerah,” kata Achmad Fauzi usai rangkaian MCF, Sabtu malam.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan kesenian tradisional. Generasi muda harus diberi ruang untuk mengenal, terlibat, sekaligus mengembangkan seni budaya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Budaya, kata dia, juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan kehidupan masyarakat. Setiap kesenian memiliki karakter, cerita, serta nilai yang lahir dari lingkungan sosial tempat budaya tersebut tumbuh.

Karena itu, inovasi dalam pengembangan seni dinilai penting, tetapi tetap harus berpijak pada akar budaya. Dengan cara tersebut, kesenian tradisional tidak sekadar menjadi tontonan atau peninggalan masa lalu, melainkan tetap relevan dalam kehidupan masyarakat.

Achmad Fauzi berharap MCF dapat terus menjadi ruang perjumpaan antardaerah, seniman, komunitas, dan generasi muda. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperluas ruang kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Jawa Timur kepada masyarakat yang lebih luas.

“Budaya harus tetap hidup dan berkembang meskipun dengan inovasi mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” tandasnya.

Facebook Comments Box

Penulis : Mahmudi

Editor : Novita

Berita Terkait

Cegah Permainan Harga, Pemkab Sumenep Kawal Tata Niaga Tembakau 2026
Dari Digitalisasi ke Daya Saing, UMSURA Dorong UMKM Sumenep Naik Kelas
IMM Sumenep Dorong Wajah Baru Polresta dengan Pelayanan yang Lebih Humanis
Gema Sendir Audiensi ke DPMD Sumenep, Tagih Solusi Krisis Air Bersih
Lewat CERDAS Desa, KKN Posko 13 Wiraraja Edukasi Siswa tentang Bahaya Bullying
Kenalkan POSBANKUM, KKN Universitas Wiraraja Dorong Warga Pahami Hak Hukum
Perluas Layanan Spesialis, RSUD Sumenep Resmi Buka Poli Urologi
KKN Universitas Wiraraja Dimulai di Lembung Timur, Mahasiswa Siapkan Program Berdampak bagi Warga

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 17:50 WIB

Cegah Permainan Harga, Pemkab Sumenep Kawal Tata Niaga Tembakau 2026

Selasa, 1 September 2026 - 17:41 WIB

13 Daerah Tampilkan Seni Tradisi di Sumenep, Bupati: Budaya Harus Terus Berkembang

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 06:56 WIB

Dari Digitalisasi ke Daya Saing, UMSURA Dorong UMKM Sumenep Naik Kelas

Kamis, 20 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Gema Sendir Audiensi ke DPMD Sumenep, Tagih Solusi Krisis Air Bersih

Rabu, 19 Agustus 2026 - 03:22 WIB

Lewat CERDAS Desa, KKN Posko 13 Wiraraja Edukasi Siswa tentang Bahaya Bullying

Berita Terbaru