NU, Muhammadiyah, dan Budayawan Sumenep Soroti Tantangan Peradaban Lokal

- Admin

Minggu, 14 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumenep — Di tengah menguatnya arus pembangunan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam, Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumenep menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Telaah Kritis Peradaban Islam di Sumenep” di Aula Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sumenep, Minggu (14/12/2025).

Forum ini menghadirkan tiga narasumber lintas latar belakang—akademisi, ulama, dan budayawan—yang merepresentasikan spektrum pemikiran Islam, kebudayaan, dan kebijakan publik di Sumenep. Mereka adalah Dr. Moh. Zeinudin, akademisi Universitas Wiraraja sekaligus Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sumenep; K.H. Widadi, Ketua PCNU Sumenep yang baru terpilih melalui Konferensi Cabang NU; serta Ibnu Hajar, M.Pd., budayawan Sumenep.

Dalam pemaparannya, Dr. Zeinudin—yang akrab disapa Dr. Zein—mengajak peserta FGD untuk keluar dari cara pandang normatif-ritualistik dalam memahami Islam. Dengan merujuk pemikiran Nurcholish Madjid dalam Islam: Doktrin dan Peradaban serta Fazlur Rahman melalui Islam and Modernity, ia menegaskan pentingnya membedakan Islam sebagai sistem doktrin keimanan dengan Islam sebagai peradaban yang hidup, dinamis, dan berinteraksi langsung dengan realitas sosial, ekonomi, serta kebudayaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sumenep relatif kuat dalam dimensi doktrin—tradisi keagamaan, pesantren, dan otoritas ulama—tetapi masih menghadapi persoalan serius dalam dimensi peradaban,” ujar Dr. Zein. Menurutnya, peradaban menuntut keberanian menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan publik dan praktik sosial yang menjawab persoalan nyata masyarakat, seperti kemiskinan struktural, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan lingkungan.

Isu kegiatan hulu minyak dan gas (migas) menjadi salah satu sorotan kritis dalam diskusi. Dr. Zein menilai, pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya alam kerap berjalan tanpa kerangka etika sosial dan budaya yang kuat. Akibatnya, daerah kaya sumber daya justru tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat lokal. “Dalam perspektif Fazlur Rahman, nilai moral Islam harus dibaca secara kontekstual dan diwujudkan dalam kebijakan yang berkeadilan, bukan semata berorientasi pada investasi dan pertumbuhan,” katanya.

Sementara itu, K.H. Widadi menekankan pentingnya peran ulama dan organisasi keagamaan dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keluhuran nilai-nilai sosial. Ia mengingatkan bahwa modernisasi tanpa pijakan etika berpotensi melahirkan krisis kemanusiaan. “Islam hadir bukan hanya untuk mengatur ibadah, tetapi juga untuk memastikan pembangunan berjalan selaras dengan keadilan sosial dan kemaslahatan umat,” ujarnya.

Dari perspektif kebudayaan, Ibnu Hajar, M.Pd. mengkritik lemahnya keberpihakan kebijakan daerah terhadap potensi budaya lokal Madura. Menurutnya, sektor UMKM, industri kreatif, serta tradisi maritim dan agraris masyarakat Sumenep seharusnya diposisikan sebagai fondasi peradaban, bukan sekadar pelengkap pembangunan. “Ketika budaya tidak menjadi dasar pembangunan, yang terjadi adalah keterasingan masyarakat dari ruang hidupnya sendiri,” kata Ibnu Hajar.

Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif mahasiswa dan aktivis HMI. Berbagai pandangan kritis mengemuka, mulai dari minimnya dampak ekonomi migas bagi masyarakat lokal hingga lemahnya ekosistem UMKM berbasis kearifan lokal.

FGD ini menegaskan kembali peran HMI sebagai ruang intelektual kritis bagi mahasiswa Islam. Para pembicara sepakat bahwa peradaban Islam tidak lahir dari simbol dan slogan, melainkan dari keberanian berpikir kritis, dialog lintas perspektif, serta keterlibatan nyata dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Melalui forum ini, HMI Sumenep berharap mampu merumuskan arah gerakan yang tidak hanya religius secara simbolik, tetapi juga progresif secara intelektual dan relevan secara sosial—sebuah ikhtiar untuk menjembatani Islam sebagai doktrin dengan Islam sebagai peradaban di tengah tantangan pembangunan modern.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bursa Sekda Sumenep Disorot, Dua Figur Kuat Disebut Didukung Jejaring Nasional
Gen Z Jatim Desak Perda Pembatasan Plastik
Memalukan ! Marsel Agot Seorang Petinggi Agama Di Labuan Bajo Diduga Rampas Tanah Warga
Meski Malam Hari, Petugas PLN Dungkek Tetap Sigap Atasi Keluhan Listrik Warga
Hampir Rampung, Pembangunan Musola Al-Ikhlas di Manding Capai 96 Persen Berkat Kepedulian JSI
Diduga Terlibat Teror Wartawan, Nama Pater Marsel Agot Dikaitkan dengan Sengketa Tanah Batu Gosok Labuan Bajo
Siswa Jadi Korban Tabrakan, luka dan Sakit, Homaidi, Oknum Polres Sumenep Malah Panggil Orang Tuanya Berdalih ada Laporan Padahal Tidak
Lima Komisioner Komisi Informasi Sumenep Periode 2025–2029 Resmi Dilantik

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 17:03 WIB

Bursa Sekda Sumenep Disorot, Dua Figur Kuat Disebut Didukung Jejaring Nasional

Senin, 2 Februari 2026 - 17:04 WIB

Gen Z Jatim Desak Perda Pembatasan Plastik

Minggu, 1 Februari 2026 - 15:19 WIB

Meski Malam Hari, Petugas PLN Dungkek Tetap Sigap Atasi Keluhan Listrik Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 06:09 WIB

Hampir Rampung, Pembangunan Musola Al-Ikhlas di Manding Capai 96 Persen Berkat Kepedulian JSI

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:30 WIB

Diduga Terlibat Teror Wartawan, Nama Pater Marsel Agot Dikaitkan dengan Sengketa Tanah Batu Gosok Labuan Bajo

Berita Terbaru

Opini

Dampak Globalisasi Terhadap Negara-Negara Miskin

Selasa, 3 Feb 2026 - 04:01 WIB

Daerah

Gen Z Jatim Desak Perda Pembatasan Plastik

Senin, 2 Feb 2026 - 17:04 WIB