Mikroplastik di Hujan Malang, Ecoton Peringatkan Bahaya

- Admin

Rabu, 12 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Malang – Tim peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menemukan sebaran mikroplastik pada air hujan di wilayah Malang Raya.

Dari hasil analisis pada 7–9 November 2025, kelima lokasi pengambilan sampel di Sudimoro, Gadang, Merjosari, Singosari, dan Blimbing seluruhnya positif terkontaminasi mikroplastik. Konsentrasi tertinggi ditemukan di Kecamatan Blimbing Kota Malang, mencapai 98 partikel per liter.

Jenis mikroplastik yang paling dominan adalah fiber (serat sintetis) dengan proporsi lebih dari 80 persen, disusul oleh film dari kantong plastik dan fragmen dari plastik keras.

Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menyebut temuan ini menunjukkan bahwa udara di Malang sudah menjadi media penyebaran plastik.

“Saat masyarakat membakar sampah plastik, partikel mikroskopis plastik ikut terlepas ke udara, lalu turun kembali bersama hujan. Itu yang disebut wet deposition,” kata Rafika, Rabu(12/11/2025).

Menurut Ecoton, pembakaran sampah plastik menjadi sumber utama polusi mikroplastik atmosfer, dengan kontribusi mencapai 55 persen. Disusul oleh sektor transportasi (33,3 persen), laundry dan tekstil domestik (27,7 persen), serta limbah rumah tangga dan kemasan plastik (22 persen).

Peneliti Ecoton, Alaika Rahmatullah, menjelaskan partikel plastik berukuran di bawah lima milimeter berpotensi terhirup manusia atau terbawa air hujan ke sumber air tanah.

Ia mengingatkan bahwa mikroplastik juga dapat membawa logam berat seperti timbal dan kadmium, serta bahan kimia berbahaya seperti BPA dan phthalates.

“Ini membentuk siklus plastik atmosferik. Hujan menjadi jalur baru paparan mikroplastik bagi manusia,” ujarnya.

Menindaklanjuti temuan ini, Ecoton mendesak pemerintah daerah melarang pembakaran terbuka sampah plastik, memperkuat aturan pembatasan plastik sekali pakai, serta mengembangkan riset berkala pemantauan mikroplastik di udara dan air hujan.

Lembaga tersebut juga meminta agar pemerintah mengintegrasikan isu mikroplastik dalam kebijakan kesehatan masyarakat, khususnya untuk meneliti kaitannya dengan asma, bronkitis kronis, dan gangguan hormon di wilayah padat pembakaran sampah.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Konfercab PMII Surabaya di Islamic Centre Ricuh, Kader Unair Diduga Dipukul
Jelang Pilkades Paseraman, Sosok Muhlis Fajar Mulai Jadi Perhatian Warga
JSI Sumenep Dikukuhkan, Komitmen Jaga Independensi dan Etika Pers Ditegaskan
Data Desil DTSEN Tak Sesuai Kondisi Warga, PC IMM Sumenep Desak Evaluasi Lintas Pihak
Krisis Air Bersih Tiap Tahun Melanda Desa Sendir, Kades: “Saya Tidak Tahu Masalah Rakyat”
Cegah Permainan Harga, Pemkab Sumenep Kawal Tata Niaga Tembakau 2026
13 Daerah Tampilkan Seni Tradisi di Sumenep, Bupati: Budaya Harus Terus Berkembang
Dari Digitalisasi ke Daya Saing, UMSURA Dorong UMKM Sumenep Naik Kelas

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 13:41 WIB

Jelang Pilkades Paseraman, Sosok Muhlis Fajar Mulai Jadi Perhatian Warga

Selasa, 15 September 2026 - 11:44 WIB

JSI Sumenep Dikukuhkan, Komitmen Jaga Independensi dan Etika Pers Ditegaskan

Jumat, 4 September 2026 - 17:39 WIB

Data Desil DTSEN Tak Sesuai Kondisi Warga, PC IMM Sumenep Desak Evaluasi Lintas Pihak

Jumat, 4 September 2026 - 07:50 WIB

Krisis Air Bersih Tiap Tahun Melanda Desa Sendir, Kades: “Saya Tidak Tahu Masalah Rakyat”

Selasa, 1 September 2026 - 17:50 WIB

Cegah Permainan Harga, Pemkab Sumenep Kawal Tata Niaga Tembakau 2026

Berita Terbaru

Nasional

Ancaman El Nino, Pemerintah Genjot Pompanisasi Pertanian

Minggu, 4 Okt 2026 - 13:49 WIB